Agency dengan blended ROAS 0,81 dan defisit Rp 2,5 miliar terlihat seperti bisnis yang rugi. Ternyata campaign Sales-nya untung (ROAS 1,62) — yang menyeret agregat adalah 50% budget yang parkir di objective tanpa revenue langsung.
Sebuah digital marketing agency mengelola Rp 12,95 miliar budget iklan untuk 6 klien di 3 industri, tapi hanya menghasilkan Rp 10,45 miliar revenue — blended ROAS 0,81, defisit Rp 2,5 miliar. Pertanyaan intinya: apakah iklannya memang merugi, atau ada budget boros yang menutupi campaign yang sebenarnya menguntungkan? Dikerjakan sebagai studi kasus kompetisi Data Analyst.
- Sumber:
Data_Ads.csv— data performa iklan harian agency - Volume: 4.380 baris
- Periode: Januari – Desember 2023
- Cakupan: 6 klien · 3 industri (Fashion, Beauty, FMCG) · 2 objective (Traffic, Sales)
- Metrik: impression, click, spend, revenue, dan tahapan funnel konversi
Alur kerja end-to-end dalam satu script Python:
- Data understanding & quality check — profiling struktur, validasi tipe data, dan pengecekan konsistensi metrik sebelum satu pun angka dihitung.
- EDA & segmentasi — pembongkaran metrik agregat ke level objective, industri, dan akun, karena angka blended menyembunyikan performa yang saling menutupi.
- Funnel analysis — konversi dihitung per tahap (impression → click → content → cart → checkout) untuk menemukan di titik mana kebocoran sebenarnya terjadi.
- Analisis temporal — tren bulanan untuk mendeteksi pola musiman sebagai dasar budget pacing.
- Skenario realokasi — simulasi dampak pergeseran budget terhadap blended ROAS.
Kunci analisisnya: metrik agregat sengaja tidak dipercaya begitu saja. Blended ROAS 0,81 baru bisa dijelaskan setelah dipisah per objective — dan di situlah jawabannya ketemu.
- 50% budget (Rp 6,5 M) parkir di campaign Traffic yang revenue langsungnya nol — ini penyebab utama defisit, bukan performa iklannya.
- Campaign Sales sebenarnya profitable: ROAS 1,62 — di atas titik impas. Yang menyeret agregat ke 0,81 murni soal bobot alokasi.
- Kebocoran funnel ada di tengah, bukan di ujung: Content → Add to Cart hanya 10,1%, sementara checkout justru sehat di 91% — perbaikan salah alamat kalau fokus ke checkout.
- Efisiensi antar akun berdekatan: Client C & B paling efisien, Client A paling jauh dari titik impas — kandidat scale vs kandidat audit sudah jelas.
- Omzet berpola musiman: puncak di April dan Q4 — dasar untuk budget pacing tanpa menambah total spend.
- Realokasi Traffic → Sales berpotensi mendorong blended ROAS di atas 1,0 tanpa satu rupiah pun tambahan budget.
digital-marketing-performance-analysis/
├── README.md
├── Data_Ads.csv # dataset performa iklan (4.380 baris, 2023)
├── ads_analysis_simple.py # analisis end-to-end: QC → EDA → funnel → rekomendasi
└── Ads_Performance_Presentation.pdf # deck presentasi 21 slide- Realokasi budget Traffic → Sales untuk mendorong blended ROAS di atas titik impas, tanpa menambah total budget.
- Tutup kebocoran tengah funnel (Content → Cart) lewat bundling, retargeting, dan perbaikan halaman produk.
- Scale akun efisien (Client C & B) dengan guardrail ROAS.
- Budget pacing musiman — geser spend dari bulan lemah ke April & Q4.
Project ini dilisensikan di bawah MIT License. Bebas dipakai, dimodifikasi, dan dibagikan dengan atribusi yang sesuai.
Hai! Aku Ghifarry Al Naffriza Shahdan, mahasiswa Pembangunan Ekonomi Kewilayahan di Sekolah Vokasi UGM yang lagi ngebangun jalan sebagai data/business analyst. Aku suka ngulik data buat nemuin cerita di balik angka — kayak project ini.
Yuk connect! Boleh reach out lewat platform berikut: